Trivia

Kenapa Mulut Bau saat Berpuasa?

 

Puasa di bulan Ramadhan artinya seorang muslim diperintahkan untuk tidak makan dan minum mulai dari waktu fajar (subuh) hingga petang (maghrib). Di Indonesia, waktu tersebut berlangsung selama kurang lebih 13 jam.

Selain mendatangkan pahala bagi siapa yang menjalankannya, beberapa penelitian juga telah menemukan manfaat berpuasa bagi kesehatan tubuh hingga disarankan sebagai salah satu metode untuk menurunkan berat badan (Johnstone, 2020).

Namun, ada salah satu efek samping yang dialami oleh kebanyakan orang, yaitu bau mulut.

 

Yuk, kita cari tahu dan pahami penyebab bau mulut saat puasa dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi bau mulut tersebut.

Penyebab Bau Mulut saat Berpuasa

Bau mulut saat puasa merupakan hal yang wajar dan bukan menjadi gejala gangguan kesehatan, kecuali baunya sangat mengganggu dan berbeda dari bau mulut biasa saat puasa.

 

Ada dua hal yang menjadi penyebab utama bau mulut ketika kita puasa.

1. Perubahan metabolisme tubuh menjadi ketosis

Pada dasarnya, berpuasa Ramadhan serupa dengan prinsip diet keto. Artinya ketika kita berpuasa, keadaan metabolisme tubuh beradaptasi menjadi mode pertahanan (survival) karena adanya pembatasan karbohidrat yang masuk (Mullins & Hallam, 2011).

Tubuh akan mengubah metode pengambilan energi yang seharusnya dari glukosa yang didapatkan dari karbohidrat, menjadi dari asam lemak bebas yang didapatkan dari pemecahan trigliserida yang ada di jaringan lemak (adiposa).

Proses menjadikan trigliserida sebagai sumber energi tubuh disebut dengan glukoneogenesis. Hasil samping dari proses tersebut adalah senyawa bernama badan keton, salah satu contoh senyawanya adalah beta-hidrokosibutirat (Grabacka, et al., 2016).

Senyawa keton merupakan senyawa gas volatil yang mudah menguap lewat napas sehingga sangat mudah dideteksi (Saasa, et al., 2019).

2. Penurunan produksi saliva

Air liur atau saliva berfungsi sebagai pertahanan utama kebersihan mulut di mana ia dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang tersisa di rongga mulut.

Produksi air liur sangat dipengaruhi oleh asupan makan. Ketika kita hendak makan, kelenjar air liur akan memproduksi air liur dengan jumlah yang banyak.

Ketika kita tidak makan, terlebih dalam waktu yang lama, kelenjar air liur akan meminimalkan produksi air liur. Kondisi tersebut membuat rongga mulut menjadi lebih kering daripada biasanya sehingga bau mulut akan lebih mudah terjadi (Khaleghifar, et al., 2017).

Cara Mengurangi Bau Mulut saat Berpuasa

Meskipun bau mulut saat puasa merupakan efek samping yang tidak dapat dihindari, bukan berarti hal tersebut tidak bisa dikurangi.

Pengaturan makan dan minum saat puasa dapat berperan penting terhadap intensitas bau mulut saat berpuasa.

 

Berikut ini beberapa saran yang bisa segera Anda praktekkan untuk mengatasi bau mulut saat puasa:

1. Mengatur jenis makan saat berbuka dan sahur

  • Hindari makanan yang menimbulkan bau spesifik, seperti bawang merah, bawang putih
  • Kurangi makanan berprotein tinggi seperti daging, ikan, dan susu terutama saat sahur. Hal ini disebabkan karena makanan berprotein tinggi mengandung nitrogen yang tinggi pula, di mana nitrogen juga berperan dalam menghasilkan bau dari produksi gas amonia
  • Minum air yang cukup minimal 8 gelas sejak berbuka hingga sahur
  • Hindari makan makanan yang mengandung garam tinggi karena dapat menambah dehidrasi saat puasa
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur untuk menambah cadangan glukosa saat puasa
  • Hindari mengkonsumsi kafein seperti teh dan kopi karena dapat menambah dehidrasi saat puasa

2. Rajin membersihkan gigi dan mulut setelah makan

Membersihkan gigi dan rongga mulut dapat dilakukan dengan:

  • menyikat gigi,
  • bersiwak,
  • berkumur dengan cairan pembersih mulut.

Waktu yang tepat untuk membersihkan gigi di bulan puasa adalah setelah berbuka puasa, sebelum tidur, dan setelah sahur.

3. Tidak merokok

Kandungan bahan kimia dalam rokok dapat bertahan di rongga mulut dan menciptakan aroma tidak sedap.

Selain itu, merokok dapat menambah kekeringan di rongga mulut.

Referensi
  1. G. Mullins; C.L. Hallam; I. Broom (2011). Ketosis, ketoacidosis, and very-low-calorie diets: putting the record straight. British Nutrition Foundation Nutrition Bulletin, 36, 397–402. doi:10.1111/j.1467-3010.2011.01916.x
  2. Grabacka, Maja & Pierzchalska, Malgorzata & Dean, Matthew & Reiss, Krzysztof. 2016. Regulation of Ketone Body Metabolism and the Role of PPARα. International Journal of Molecular Sciences, 17. 2093. 10.3390/ijms17122093.
  3. Johnstone, A. 2015. Fasting for weight loss: an effective strategy or latest dieting trend? International Journal of Obesity (2015) 39, 727–733.
  4. Khaleghifar, N., Sariri, R., Aghamaali, M., Ghafoori, H. 2017. The Effect of Ramadan Fasting on Biochemistry of Saliva. Journal of Applied Biotechnology Reports, Volume 4, Issue 2, Spring 2017; 583-586
  5. Saasa, V., Beukes, M., Lemmer, Y., Mwakikunga, B. 2019. Blood Ketone Bodies and Breath Acetone Analysis and Their Correlations in Type 2 Diabetes Mellitus. Diagnostics 2019,9, 224. DOI:10.3390/diagnostics9040224