Pengetahuan Gizi

Waspada Sindroma Metabolik

Buat kamu yang memiliki tubuh langsing tapi perut buncit, kamu perlu waspada. Bisa jadi itu adalah tanda sindroma metabolik.

Tubuh yang langsing tidak selalu berarti tubuhmu dalam keadaan sehat. Gizigo akan membahas alasannya di artikel ini!

Foto Fasty Arum Utami
Kontributor

Fasty Arum Utami, S. Gz., M.S.

Fasty merupakan ahli gizi dan auditor makanan di berbagai instansi di Indonesia, di sela-sela kesibukannya ia menulis buku best seller MPASI Gizi Tepat (2018) dan buku Kandungan Zat Gizi Makanan Khas Yogyakarta (2014).

Tubuh yang langsing namun memiliki perut buncit disebabkan oleh simpanan lemak yang banyak di daerah perut. Istilah lainnya adalah obesitas abdominal. Simpanan lemak tersebut dinamakan lemak visceral.

Masyarakat memang sering berpikir kalau perut buncit identik dengan tubuh yang tidak sehat. Misalnya mudah mengidap Diabetes, Hipertensi, atau Asam Lambung GERD.

Tapi sebenarnya sehat tidaknya tubuh tak hanya diukur dengan berat badan. Ada hal lain yang lebih penting yaitu komposisi tubuh.

Apa Itu Sindroma Metabolik?

Dalam ilmu kesehatan, suatu kondisi yang menunjukkan tubuhmu tidak sakit tetapi tidak juga sehat dinamakan dengan sindroma metabolik. Sindroma metabolik, yang disebut juga dengan sindroma X atau sindroma resistensi insulin, merupakan kumpulan gejala yang mengakibatkan seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami diabetes mellitus, atau penyakit jantung tipe 2, dibandingkan dengan orang sehat. 1
Sindroma Metabolik

Tubuh yang langsing namun memiliki perut buncit disebabkan oleh simpanan lemak yang banyak di daerah perut. Istilah lainnya adalah obesitas abdominal. Simpanan lemak tersebut dinamakan lemak visceral.

Sehat tidaknya tubuh tak hanya diukur dengan berat badan, tetapi ada hal lain yang lebih penting yaitu komposisi tubuh.

Sindroma metabolik merupakan penyebab kematian pada seperempat penduduk di dunia pada usia produktif antara usia 20 sampai dengan 60 tahun. 2

Kalau kita mengalami sindroma metabolik, besar kemungkinan kita memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami penyakit jantung. Serta kemungkinan lima kali lipat untuk mengalami penyakit diabetes mellitus dibandingkan dengan orang sehat. 3

Selain itu, sindroma metabolik juga meningkatkan faktor risiko kita untuk mengalami penyakit kanker hati, usus, rahim, dan payudara 4 serta menurunkan kecerdasan otak.5

Duh, serem banget dengernya.

Bagaimana Sindroma Metabolik di Indonesia?

Dalam sebuah penelitian di Jakarta dipaparkan bahwa prevalensi sindroma metabolik mencapai 28.4%. Dengan prevalensi pada kaum wanita lebih kecil (25.4%) dibandingkan dengan kaum laki-laki (30.4%).

Ciri yang bisa kamu tandai dari sindroma metabolik ini adalah lingkar perut. Kalau kamu laki-laki dengan lingkar perut lebih dari 90 cm, atau kamu perempuan dengan lingkar perut lebih dari 80 cm.

Kalau ditambah tanda-tanda biokimia pendukungnya, berarti kamu positif mengalami sindroma metabolik. Tanda-tanda yang kamu perlu amati adalah kadar trigliserida darah ≥ 150 mg/dL, kadar kolesterol HDL (high density lipoprotein) < 50 mg/dL, tekanan darah ≥ 130/≥ 85 mmHg, dan kadar gula darah puasa > 100 mg/dL. 6

Referensi
  1. Yamaoka K, Tango T. Effects of lifestyle modification on metabolic syndrome: a systematic review and meta-analysis. BMC medicine. 2012;10(1):1.
  2. Aguilar M, Bhuket T, Torres S, Liu B, Wong RJ. Prevalence of the metabolic syndrome in the United States, 2003-2012. Jama. 2015;313(19):1973-4.
  3. Kassi E, Pervanidou P, Kaltsas G, Chrousos G. Metabolic syndrome: definitions and controversies. BMC medicine. 2011;9:48.
  4. Esposito K, Chiodini P, Colao A, Lenzi A, Giugliano D. Metabolic syndrome and risk of cancer: a systematic review and meta-analysis. Diabetes care. 2012;35(11):2402-11.
  5. Yates KF, Sweat V, Yau PL, Turchiano MM, Convit A. Impact of metabolic syndrome on cognition and brain: a selected review of the literature. Arteriosclerosis, thrombosis, and vascular biology. 2012;32(9):2060-7.
  6. Expert Panel on Detection E, Treatment of High Blood Cholesterol in A. Executive Summary of The Third Report of The National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, And Treatment of High Blood Cholesterol In Adults (Adult Treatment Panel III). Jama. 2001;285(19):2486-97.