Gizi Story

Reshaping My Life
through The Food

Gaya hidup dibentuk dari kebiasaan-kebiasan kecil yang kita lakukan di setiap hari. Kadang tanpa sadar, kita membuang waktu dan memilih hal yang tidak kita perlukan. 

Kontributor

Rintri Pardede

Rintri adalah freelance copywriter. Ia senang berbagi hal baik dan terlibat dalam berbagai social project untuk membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.

Gaya hidup dibentuk dari kebiasaan-kebiasan kecil yang kita lakukan di setiap hari. Kadang tanpa sadar, kita membuang waktu dan memilih hal yang tidak kita perlukan. 

Setelah pindah ke Surabaya, saya banyak berpikir dan mengamati behaviour saya sendiri, dari bangun pagi hingga tidur. I got a conclusion “Ok, this is not healthy!

Saya jarang tidur teratur, tidur jam 2 pagi adalah hal yang lumrah dan biasa saja bagi saya. Bahkan saya pernah tidak tidur 2 hari dan di siang hari masih beraktivitas seperti biasa. Sehingga wajar saja, rasa cemas dan letih sering hadir tanpa ketuk pintu.

Beberapa hari setelah pindah, saya menghubungi teman-teman Gizigo dan menanyakan tentang pola hidup sehat dan seputar cara menaikkan berat badan. Teman-teman di Gizigo menjelaskan bahwa sebelum memulai program makanan untuk menaikkan berat badan, saya harus lebih dulu mengatur waktu istirahat. Karena apabila waktu tidur tidak teratur, metabolisme juga akan terganggu.

Jika dihitung, saya masih kurang 12 kg dari berat badan ideal, cukup stress juga melihat di cermin betapa kurusnya saya. Tapi saya melihat keresahan itu dalam sebuah perspektif. Saya rasa untuk benar-benar memulai hidup sehat, saya tidak harus fokus pada berat badan dan ekspektasi terhadap tubuh ideal, karena akan berujung pada kecemasan apabila tidak tercapai sesuai target.

Kemudian saya bilang ke diri saya, bahwa hidup sehat is about being mindful terhadap apa yang masuk ke tubuh, dari mulai makanan hingga informasi yang saya pilih untuk dikonsumsi.

 

I want a healthy life and clearer mind. If I gain weight, it’s a bonus. If I don’t, I already get healthy life. What’s not to love?

Saya memulai kebiasaan baik dengan disiplin sarapan, snacking, makan cukup dan tidur teratur. I never skip breakfast. Bagi saya sarapan adalah waktu terbaik untuk menghitung nikmat-nikmat Tuhan. 

Saya memilih sarapan dengan porsi yang cukup dengan menu-menu yang gampang dibuat dan menyehatkan, seperti salad, oats, yoghurt, buah-buahan, ubi rebus, susu dan roti. Snacking time di jam 10:00 dan 16:00, makan siang jam 12:00-13:00 dan makan malam pukul 19:00.

Saya juga jadi punya kebiasaan baru, bersih-bersih secara teratur di pagi hari dan sebelum tidur. Kenapa sebelum tidur juga perlu bersih-bersih? Supaya besok ketika bangun, mata dan hati terasa nyaman. Saya juga berpikir kalau tidak ada yang tahu umur seseorang, jadi jika esok pagi saya tiba-tiba nggak ada, setidaknya saya tidak menyulitkan orang di sekitar saya untuk membereskan ruangan saya yang messy.

Saya pernah membaca di sebuah buku bahwa untuk mengatur atau me-reset cara hidup, bisa dimulai dengan membereskan hal di sekitar kita. Dengan begitu, kita memberi ruang bagi otak kita untuk mengatur, menyusun dan memilah yang penting dan tidak penting. 

Anggaplah otak kita adalah sebuah perpustakaan, maka kita perlu mengatur buku sesuai kategori agar tertata, nyaman dan memudahkan kita ketika ingin membaca. Pikiran yang kacau akan menyulitkan kita melihat sesuatu dengan jelas, bukan?

Perihal Kenyang

Ketika sarapan, saya pernah memposting menu di media sosial. Lalu teman saya bertanya “Apakah kenyang?” Jawaban saya, “kenyang!” Setelah menjawab itu, saya menyadari satu hal, bahwa saya sudah melihat “kenyang” sebagai sesuatu yang berbeda. Bagi saya sekarang, kenyang tidak hanya berkaitan dengan perut, tapi juga perspektif. 

Dulu saya pikir sarapan itu harus sangat kenyang, harus nasi atau soto, ketupat, mie goreng dan bekal mengenyangkan lainnya, sekarang saya pikir makan itu adalah perihal rasa cukup. Ketika saya merasa cukup, perut saya akan merasa kenyang dengan sendirinya. Lagipula pekerjaan saya bukan pekerjaan lapangan yang mengharuskan saya harus mengkonsumsi banyak karbohidrat. 

Jadi buat saya, semua yang saya konsumsi di pagi hari hanya perlu ‘cukup’ untuk tubuh saya sesuai kebutuhan dan aktivitas yang saya lakukan. Sarapan dengan porsi yang cukup akan memberi kesempatan untuk percernaan kita dalam memproses apa yang kita makan di pagi hari setelah istirahat di malam hari. Kalau pun setelah sarapan akan lapar, kita masih bisa snacking kok.

Setelah hampir dua bulan menjalani pola hidup yang lebih baik dari sebelumnya, saya tidak bisa bilang bahwa berat badan saya naik, tapi saya yakin akan satu hal, I have a clearer mind. Bagi orang seperti saya yang pikirannya selalu ramai, doyan lembur ngulik-ngulik dan belajar sesuatu, pun mudah cemas karena kurang leren (istirahat-red), kebiasaan baru ini mendatangkan a peace of mind. 

For me, there’s nothing that precious than that. Untuk siapapun yang membaca ini nantinya, I wanna say, recheck the way you are living, from sunrise until midnight, and think again about what kind of state or what kind of life that you want to live. 

Our body and mind rules the way we react and respond, if it’s not healthy, one day it will bother the quality of our life. I already take my first step, it’s hard of course, but it’s all worth it.

Have a blissful and healthy life, friends!